Kamis, Maret 23, 2017

Mutis "Penantian Panjang Yang Tidak Terduga"

Perjalanan ke Cagar Alam Gunung Mutis membawa kesan tersendiri buat saya. Sudah lama sekali saya ingin pergi ke tempat ini, tapi entah kenapa selalu gagal! Ada saja alasan yang membuat saya gagal ke sana.

Tiba-tiba pagi itu, sekitar jam 8.30,

seorang teman saya mengatakan mereka mendapat libur dadakan dan nothing to do hari itu. Entah ada bisikan apa, saya langsung mengajaknya ke Cagar Alam Gunung Mutis dan ia langsung membalas "iya" dalam beberapa detik. Well, saat itu juga, saya langsung loncat dari tempat tidur dan lompat-lompat kegirangan ((melupakan kaki saya yang masih sakit karena terantuk di hari sebelumnya)). Berasa orang yang barusan menerima uang jutaan dollar..haha..

Dan perjalanan pun di mulai walau hari sudah agak siang. Sekitar jam 10.30 kami baru keluar dari Kupang. Kami juga masih sarapan di siang hari sebelum melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya, jalanan berkelok-kelok dan turun naik lembah berhasil ditaklukan selama dua jam. Eitss! belum sampai ke kawasan Mutis lho. Dua jam perjalanan ini mengantarkan kami di Kota So'e. Kota So'e merupakan Ibu Kota Kabupaten Timor Tenggah Selatan. 
Setelah kembali mengisi bahan bakar dan amunisi untuk perjalanan berikutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Mutis, yang jaraknya masih dua jam lagi dari Kota So'e. Perjalanan ini cukup ekstrim, karena melewati jurang terjal dan jalanan rusak. Tapi...perjuangan ini dibayar dengan pemandangan yang spectacular.

Sebagian Pemandangan Terbaik Sepanjang Perjalanan

Akhirnya sekitar jam 14.00 kami tiba di Home Stay, Matheos Anin, salah satu juru kunci Gunung Mutis. Beliau adalah generasi ke-9 dari penerus penjaga kawasan Mutis. Beliau menyambut kami dengan ramah dan begitu antusias menceritakan sejarah panjang tentang kawasan Mutis dan tentang Pahlawan Dua Putri dari Kerajaan Mollo. Dia juga sempat menyinggung bahwa ada kemungkinan kekerabatan antara suku "maaf saya lupa" di Bali dan keluarga di Mollo. Well, hal ini masih didasarkan dari keberadaan dua batu yang diyakini dibawa oleh leluhur mereka, Pahlawan Dua Putri ke Bali. Di yakini bahwa Dua Putri tersebut menikah dan menetap di Bali walau belum bukti-bukti yang akurat tentang hal ini.

Matheos Anin
Hampir satu jam kami bercerita dengan beliau, dan akhirnya kami memohon ijin untuk melanjutkan perjalanan ke Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis. Sebelum kami masuk ke dalam kawasan, kami juga melapor dulu di Pos BKSDA yang terletak di pintu masuk Kawasan Mutis. Sapa tau ya kami ga balik-balik. haha..

Beginilah kondisi di dalam Kawasan Mutis

Sejuk dan Menentramkan

Kabut Mulai Menelusup
Gio pun Mengukir Sejarah Menaklukan Sebagian Kawasan Gunung Mutis

Walaupun Gio, si motor matic berhasil sampai masuk ke dalam Kawasan Gunung Mutis, tapi saya TIDAK menyarankan untuk membawa motor matic ke sini. Medan di kawasan ini sangat tidak cocok dengan motor matic. Jika hujan, batuan di sepanjang jalan kawasan akan menjadi sangat licin dan akan sulit untuk mengendalikan motor. Well, waktu itu saya bersama seorang pembalab jadi tidak diragukan lagi keahliannya membawa motor. :) 


Perjalanan panjang ini, dimulai dari kejadian yang tidak terduga bersama dengan orang yang tidak pernah saya duga. Terima kasih sudah menemani perjalanan panjang ini dan menjadi bagian dari kisah-kisah pencapaian bucket list.