Minggu, September 08, 2013

Jalan-jalan Ke Kepulauan Seribu, Goes To Pari Island

Holaaa Readers....Lama tak jumpo...hehe...Akhirnya saya kembali menulis blog. 
Kali saya akan bercerita mengenai tetek bengek perjalanan ke Kepulauan Seribu di DKI Jakarta. Awalnya sih senang banget tapi ada beberapa hal yang membuat kecewa..Hm...Let's check this story.

Well, setelah beberapa kali direncanakan dan gagal, akhirnya Hari Sabtu tanggal 7 September berhasil juga jalan-jalan ke Kepulauan Seribu. Pulau yang dituju kali ini adalah Pulau Pari.
Alasan memilih Pulau Pari adalah karena tidak terlalu banyak penduduk, pantainya masih bersih dan airnya juga jernih. Pantai yang sering dikunjungi di Pulau Pari adalah Pantai Pasir Perawan or Virgin Beach.
Ga kalah deh sama Pantai Dreamland di Bali, hanya kekurangan di Kepulauan Seribu adalah fasilitas dan transportasinya masih kurang memadai.

Ini merupakan perjalanan pertamaku ke Kepulauan Seribu. Karena merupakan perjalanan pertama, aq siap lebih awal supaya ga ketinggalan perahu tapi ternyata masih kurang persiapanku. Maklumlah, karena baru awal. : D. 
Awalnya kami merencanakan untuk naik kapal kerapu. Kapal kerapu ini hanya menampung sekitar 20 orang dengan fasilitas yang cukup baik dibandingkan ferri. 
Aku mulai persiapan dari jam 04.00 biar ga ketinggalan kapal kerapu. Masalah tiket kuserahkan ke temanku yang rumahnya di sekitaran Pluit. Oya, Kapal Kerapu hanya tersedia di Pelabuhan Kali Adem. Namun ditengah perjalanan aku dikabari untuk menunggu di Pelabuhan Muara Angke karena menurut temanku kita kehabisan tiket kapal kerapu. 
Aku baru tiba di Pelabuhan Muara Angke dari Jati Padang sekitar pukul 07.00. Lumayan lama ya. Sebenarnya hanya membutuhkan satu jam untuk tiba di Pelabuhan Muara Angke karena terjebak macet di Jalan Pluit Karang Asri dan akhirnya baru sampai sekitar jam 07.00. 
Aku menggunakan Transjakarta karena tarif untuk jam 06.00-07.00. Murah banget, cuma perlu ngeluarin Rp 2.000. Perjuanganku dari Jati Padang sampai ke Pelabuhan Muara Angke ga selesai dengan naik Transjakarta. Aku harus transit di Halte Penjaringan dan naik angkot B 01 ke pelabuhan Muara Angke. Dudududu... Dan ternyata angkotnya ga bisa masuk ke pelabuhan karena udah dipadatin mobil yang mau ke Kepulauan Seribu atau ke pasar ikan di sekitar pelabuhan. Mau ga mau aku harus naik ojek lagi ke dalam pelabuhan mengingat waktunya udah mepet. Dan akhirnya sampai juga di pelabuhan. 
Horaaaay...
Untuk sementara hatiku lega karena udah nyampe dan duduk dalam kapal..Haha
Menurut jadwal hasil browsing di internet, ferri berangkat jam 07.30. Tapi kenyataannya ferrinya baru berangkat jam 08.00. Huft rada bete (maklumlah ya karena baru pertama kali :D...Its Ok). Setidaknya next time aku ga perlu buru-buru seperti tadi kalau naik ferri. 
Perlu jadi catatan ya teman-teman, bahwa ferri yang dimaksud ini kapal kayu dengan fasilitas sederhana. Kita cuma perlu bayar Rp 35.000 untuk sampai ke pulau yang dituju. Jika menggunakan Kapal Kerapu teman-teman harus mengeluarkan uang Rp. 42.000. Hanya berbeda Rp 8.000 tapi fasilitas kapal Kerapu masih lebih baik dibandingkan kapal ferri. Selain itu kapal kerapu hanya membutuhkan 1 jam untuk sampai ke Pulau Pari.
Kondisi di Dalam Kapal Ferri
Fasilitas yang Disediakan dalam Ferri Hanya Baju Pelampung
Kapal Ferri Lain yang Menuju Ke Kepulauan Seribu


Perjalanan menggunakan ferri membutuhkan waktu 2 jam untuk tiba di Pulau Pari. Naik ferri mengubah pandanganku, bahwa yang murah meriah belum tentu ga mengasikan. Not bad koq asal ga mabuk laut aja.  
Perjalanan dua jam ke Pulau Pari ga begitu terasa karena aku menghabiskan waktu dengan ngobrol bersama teman baruku..haha. 
Akhirnya tiba juga di Pulau Pari. Kurang dari jam 10.00 kita sudah sampai. Cukup crowded karena ada tiga kapal ferri sampai di Pulau Pari dalam waktu bersamaan. Sempat nunggu beberapa menit agar kapal bisa menurunkan penumpang. 

Kapalnya Berjejer Sehingga Bisa Nurunin Penumpang (Kapal yang kutumpangi paling ujung)
Setelah menginjakkan kaki di darat, temanku langsung menuju ke loket pembelian tiket. Walaupun baru sampai tapi ia sudah harus memastikan untuk bisa pulang kembali ke Jakarta..hehe.. 
Ternyata oh ternyata, tidak ada kapal ferri yang menuju ke Jakarta siang/sore nanti. Kapal ferri yang akan kembali ke Jakarta hanya tersedia jam 11.00 (dan saat kita datang sudah banyak penumpang yang naik ke kapal). Alamak!!! Padahal dari Jakarta sudah dikonfirmasikan bakal ada kapal ferri yang balik ke Jakarta jam 13.00. Ternyata hanya ada kapal kerapu yang akan kembali ke Jakarta dan loketnya baru akan dibuka pukul 13.00. Dan lebih hebatnya lagi, kapal kerapu hanya menampung 3 penumpang dari Pulau Pari. OMG. Itupun memakai sistem antri alias siapa cepat dia dapat.  
Aku juga jadi ikutan panik karena persiapanku minim banget. Aku cuma nyiapin baju ganti dan ga bawa banyak duit buat penginapan dan sebagainya.  Kapal ferri baru berangkat keesokan paginya jam 10.00.
Kecewa banget dengan sistem transportasi di Kepulauan Seribu. Awalnya kita nekat pergi karena sudah dijanjikan dari Jakarta akan ada kapal ferri yang balik kembali ke Jakarta. 

Tak mau kecewa berlama-lama, kami memutuskan untuk mengitari pulau dan kembali ke loket jam 12.30.
Dengan berbekal browsing dan nanya-nanya, kami memutuskan untuk mencari Pantai Pasir Perawan. 
Seperti apa yang dikatakan penduduk sekitar dan hasil browsing, pantainya bagus banget. Setidaknya masalah tiket tadi terlupakan sejenak. 

Pemandangan di Sekitar Pantai Pasir Perawan 
Hutan Bakau di Sekitar Pantai
Pantai Pasir Perawan di Kelilingi Oleh Hutan Bakau dengan kedalaman 50 cm 
Pemandangan di Sekitar Pantai
Selain pemandangan menarik, terdapat juga fasilitas perahu untuk mengitari pantai ini. Cukup dengan Rp 35.000 kita bisa berkeliling, berasa di Venice Italy \*.*/. Bedanya kita berkeliling pantai dan yang mengemudikan perahu bukan cowok cakep. :D

It's Me with the boat and awesome beach :))

Berkeliling dengan perahu

Kekecewaan di Pulau Pari.
Setelah foto sesion dan berkeliling, kita udah harus siap-siap kembali ke loket. Huft sedikit mengecewakan karena belum ada kepastian kita bisa kembali ke Jakarta atau enggak. Masalah ini juga menghambat kami untuk melakukan aktivitas lainnya di Pulau Pari. 
Sampai di loketpun kita masih harus menunggu setengah jam lagi, karena loketnya baru akan buka pukul 13.00.
Sambil menunggu, aku memutuskan untuk bertanya ke aparat setempat tentang kepastian kapal. Anehnya mereka juga tidak tahu pasti apakah akan ada kapal atau enggak, karena memang hanya kapal kerapu yang akan kembali ke Jakarta. Biasanya akan ada kapal yang singgah di Pulau Pari untuk ke Jakarta siang hari nanti tetapi itupunn tidak pasti ada. Aneh memang, karena seharusnya transportasi untuk weekend lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Daripada menghabiskan waktu akhirnya kami mengantri tepat di depan loket kapal kerapu. Setelah beberapa menit menunggu ternyata ada beberapa orang lainnya ikut mengantri. Diantaranya ada mahasiswa airlangga yang harus pulang keesokan harinya dengan kereta ke Surabaya. Wah wah... pasti deg-degkan, karena kapal kerapu hanya memuat tiga orang.
Sepertinya Tuhan memang berkehendak kita harus kembali ke Jakarta :)). Kami mendapatkan kursi di kapal kerapu, sedangkan penumpang lainnya tidak diperbolehkan mendaftar karena kuota yang tersisa hanya satu. Mengapa yang kutulis "mendapatkan kursi"? Karena kita diharuskan mendaftar dan membayar pada saat kapalnya datang jam 15.30. Anehnya kami tidak diperbolehkan membayar sebelum jam tersebut. Mengapa kita diharuskan membayar pada saat kapal datang? Aneh bukan. 
Memang sudah dipastikan kita akan mendapatkan kursi tapi dengan sistem seperti ini, hanya membuat masalah baru. Karena jika kita telat pasti kursi kita akan di ambil oleh penumpang lain ataupun mungkin ada yang mencoba membayar dengan harga tinggi (taulah gimana Indonesia, semua bisa asalkan duit banyak). 
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak beranjak dari sekitar loket sambil menunggu kapal datang. 

Berkat ditengah kekecewaan 
Memang ada maksud Tuhan juga, karena selama menunggu, kami berbincang dengan salah seorang bapak yang merupakan penduduk Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka) dan menyediakan jasa kapal. Kapal yang ditangani bapak ini adalah kapal predator. Kapal dengan fasilitas bintang lima. Nama bapak ini adalah Bapak Launga. Jika ada teman-teman ada yang ingin menyewa atau menggunakan kapal predator bisa menghubungi bapak ini karena teman bisa mendapatkan harga spesial, Teman-teman bisa hubungi langsung ke nomor 081-247-167-409

Jika kita menggunakan agen di Ancol kita harus mengeluarkan uang Rp 250.000 untuk sekali jalan atau Rp 500.000 untuk pulang perginya. Jika teman menghubungi Bapak Launga, teman bisa mendapatkan harga Rp 250.000 untuk tiket pulang pergi :))). Bukan promosi tapi menurutku ini berkat buat aku dan teman-teman yang suka bepergian ke Kepulauan Seribu. Semangatku jadi membara lagi untuk bisa kembali ke Kepulauan Seribu. hehehe..
Ditengah ketidakpastiaan menggunakan kapal ferri dan kapal kerapu setidaknya ada sedikit harapan. Kalaupun kita tidak mendapatkan tiket kembali ke Jakarta, kita bisa menggunakan kapal predator dengan harga Rp 150.000. Agak mahal memang namun jika teman mengharuskan untuk kembali ke Jakarta, why not?!. 
Kapal Predator dan Kondisi di dalamnya (Ouch sorry ada objek lain :D)
Setelah hampir 3 jam menunggu, akhirnya kapal kerapu datang (sekitar pukul 16.00) dan penumpang lainnya yang tidak terdaftar juga bisa mendapatkan tiket ke Jakarta, semua berkat Bapak Launga tadi (entah bagaimana caranya). Harus sabar menunggu hingga akhirnya kita bisa dapat kepastian naik kapal kerapu atau enggak. Sering-sering lah bertanya guys..Kalau perlu curcol aja sama orang yang menurut feelingmu "dia mungkin bisa membantu".
Perjalanan kali ini sempat membuatku kapok balik lagi ke Kepulauan Seribu tetapi setelah menemukan titik terang dengan Bapak Launga, saya berpikir kembali untuk datang ke Kepulauan Seribu (walaupun memang harus mengeluarkan uang lebih). 

Suasana di dalam Kapal Kerapu




Untuk melengkapi ceritaku, kutambahkan kisaran dana yang mungkin akan teman keluarkan jika ingin ke Pulau Pari (based on my experience).

Transportasi
  1. Transjakarta                : Rp 2.000
  2. Angkot                        : Rp 3.000
  3. Ojek                             : Rp 10.000
  4. Kapal ferri                   : Rp 35.000
  5. Kapal kerapu              : Rp 42.000

Makan
  1. Indomie pake telur      : Rp 8.000 (disarankan bawa makanan sendiri)
  2. Es kelapa muda            : Rp 10.000
  3. Gorengan/buah           : Rp 1.000 – 2.000
  4. Es cream                      : harganya 2 kali lipat dengan harga normal

Fasilitas lainnya
  1. Snorkling                       : Rp 35.000 (perlengkapan renang dan life jacket)
  2. Kapal untuk snorkling  : Rp 300.000 – 600.000 (tergantung jumlah orang dan besar kecil kapal)
  3. Keliling dengan perahu : Rp 35.000 (bisa ditawar: khusus untuk keliling Pantai Pasir Perawan)
  4. Masuk ke pantai perawan: Rp 3.500
  5. Jasa toilet                      : Rp 2.000
  6. Jasa sepeda/hari          : Rp 20.000
  7. Penginapan/rumah       : Rp 350.000-Rp750.000


Uang yang ku keluarkan, sekitar Rp 120.000 (sudah termasuk transportasi dan makan) Aku ga sempat melakukan aktivitas lain karena masalah sistem transportasi tadi.