Minggu, Juli 26, 2015

GUNUNG FATULEU "Tumpukan Batu yang Menjadi Gunung"

Tepatnya tanggal 17 Juli 2015, aku dan lima temanku pergi kemping di sekitar kawasan Gunung Fatuleu di Desa Oelbiteno, Kec. Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang. Waktu tempuhnya berkisar satu setengah jam dari Kota Kupang. Perjalanan tidak begitu terasa jauh karena ini merupakan perjalanan pertama kami dan kami begitu exciting. Kami tidak begitu paham dengan apa yang sebenarnya menanti kami!! Yang kami tahu, kami harus melihat matahari terbit di puncak Gunung Fatuleu.
Yea yea Let's Jump!

Udara di sekitar kawasan Gunung Fatuleu sangat bersih dan sejuk serasa ingin ku hirup dan kusimpan bawa pulang Ke Kupang. Sesampainya di sana, kami menemui kendala karena harus meminta ijin Kepala Desa terlebih dahulu sebelum camping di sekitar kawasan dan kami juga tidak diperbolehkan camping di areal kaki gunung. Akhirnya, kami balik lagi dan mencoba mencari rumah kepala desa dan sialnya saat kami tiba, kepala desa sedang keluar menuju ke desa lain menghadiri acara pernikahan. O Gosh! Sedikit timbul rasa kecawa karena beliau juga tidak bisa dihubungi lewat handphone. Akhirnya kami memutuskan untuk menitip pesan tentang maksud kedatangan kami ke tetangga Bapak Kepala Desa karena mereka menyarankan untuk melapor di sekretaris desa yang rumahnya kurang lebih 20 km dari kepala desa. Yup, and DONE!

Sekarang tinggal mencari spot menarik untuk mendirikan tenda. Setelah mutar-mutar akhirnya kami memutuskan untuk menyembunyikan diri di daerah yang agak rendah dan cukup tersembunyi. Dan tentunya berlatar Gunung Fatuleu.

Semua mengerjakan tugasnya masing-masing

aaakkk...LOVELY banget!! Ternyata teman-temanku sudah ahli tenda-menenda karena mereka ternyata alumni pramuka, cuma saya dan Kak Putri saja yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tentang pramuka...hahaha.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, suasana mulai terasa dingin dan mulai gelap. Temanku Alin sudah menyiapkan perapian untuk memasak air dan makan POP MIE, makanan terenak sedunia.

Saat malam tiba kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan, karena angin mulai kencang dan sangat dingin. Tapi dingin dan gelap malam itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk bermain kartu. Ternyata oh ternyata! teman-temanku mantan kepala judi. :D

Dinginnya malam tetap jadi suasana terhangat saat itu
Tepat jam 8 malam kami membereskan sampah-sampah kami dan mengemasi barang yang tidak kami perlukan, karena kami harus segera bergegas jam 4 pagi, kami tidak ingin melewatkan pemandangan saat matahari terbit.

.....

Tit...TIT....tit...TIT...tit...TIT..
Suara alarm yang terus mengganggu kami dan memaksa kami untuk bangun. Jam 2.30 pagi. Angin begitu kencang dan kami bahkan tidak bisa melihat ke langit karena kabut begitu tebal. Jarak pandang hanya berkisar 3 - 5 meter. Saat Anda ingin menginap di sini pastikan untuk membawa selimut. Dengan bantuan senter dan cahaya lampu dari motor kami segera merapikan tenda dan barang-barang kami. Kami juga sempatkan sarapan karena perkiraan waktu untuk mendaki sekitar 2 jam, SO pastinya membutuhkan tenaga ekstra.

Tepat jam 4, kami sudah bergegas pergi dari tempat kemping dan pastinya yang kami tinggalkan hanyalah abu perapian, sampah-sampah tetap kami bawa.
Oya, sebelumnya kami sudah janjian dengan anak kampung yang tinggal di kaki Gunung Fatuleu untuk mengantar kami sampai di puncak. Namanya Jefri. Saat kami tiba ternyata dia tidak ada dan hanya ada kakaknya saja, Son. AWALNYA Kami merasa ditipu, tapi tak apalah yang penting ada penggantinya dan tidak mengubah rencana awal kami. 
Son memandu kami dengan tidak banyak bicara, ia lebih banyak diam dan terus berjalan saat kami bertanya, "Apakah ini masih jauh" "Apakah masih terus" "Apakah lewat sini aman" dan banyak lagi pertanyaan. Sampai temanku merasa putus asa karena ia hanya mengangguk ataupun tidak menjawab. Sempat temanku juga berceletuk "salah sepertinya kami memilih orang". Mungkin mereka kesal karena gelap dan Son juga tidak komunikatif.
Akhirnya, sampai pada bagian tersulit, di mana kami harus memanjat tebing yang cukup terjal, temanku terus bertanya kepada Son, apakah ini benar jalan satu-satunya, tetapi ia hanya menjawab dengan sepatah kata "IYA". hahaha... Mulai timbul keraguan di antara beberapa teman, karena tebingnya begitu terjal dan kami sama sekali bisa melihat ke bawah karena tertutup kabut. Tetapi temanku Alin tetap percaya pada Son dan ia memilih memanjat duluan bersama Son. Well, beberapa teman masih berdebat dan aku memutuskan untuk mengikuti jejak Alin dan Son. Saat itu, aku benar-benar tidak merasakan takut sama sekali, entah keberanian itu datang dari mana. Dan setelah melewati bagian tersulit tersebut, kami bertiga sampai duluan di puncak Gunung Fatuleu, dan beberapa menit setelahnya, teman-temanku sampai.. 

Yeay.. Kami semua akhirnya sampai. BUT... 

What we have planned was unexpected.
We're disappointed because we couldn't see the sunrise, we covered by fog. We're just grateful because we can conquer our fear and finally reached the top.
We reached the top of Fatuleu Mountain at 5.30 a.m, just one and half hour to conquer the top #pssst, aku yang paling banyak berhenti.
Mau gimana lagi, yang penting kami bisa sampai ke puncak

Kami beristirahat sejenak dan tetap menelusuri puncak dalam kabut tebal. Swing...swing..suara anginnya begitu jelas terdengar dan seolah-olah kami serasa akan terbang. Selain anginnya yang cukup kencang dan dingin, kabut ini juga mengandung air, lama kelamaan aku sadar kalau jaketku sudah mulai basah.
Setelah tiba di tempat yang cukup nyaman, kami berhenti dan menunggu 2 jam sampai kabut benar-benar pergi dan bisa melihat dengan jelas dari puncak Gunung Fatuleu. 

.....

Tik...tok...tik..tok..Jam seolah berputar sangat pelan dan kami sama sekali tidak melihat tanda-tanda kabut akan berhenti menutupi puncak dan jaket kamipun mulai basah. Beruntungnya, kami menemukan gua, bukan gua juga sih sebenarnya, hanya tumpukan batu yang memberikan ruang diantara tumpukan tersebut. Kami mencoba untuk membuat perapian dan berlindung sekitar sejam.
And FINALLY, penantian kami tidak sia-sia, kabutnya pergi WALAU cuma sebentar. hahaha.

Bertahan dalam Kabut
Satu Kata : WONDERFUL!
Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak Gunung Fatuleu, kami pun harus turun karena tenaga kami mulai habis. Tapi saat kami mendekat berada di pinggir tebing, serangan keraguan kembali muncul. Apa yang kami lakukan?! 

Nantikan serunya perjalan kami saat turun dari Gunung Fatuleu. 

Keep reading guys!


Klik di sini untuk melanjutkan.