Senin, November 24, 2014

Short Trip to Flores Island, Labuan Bajo - Komodo #1

Akhirnya setelah sekian lama hanya bisa mendengar cerita orang tentang komodo dan Pulau Flores, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk menginjakan kaki pertama kali di Pulau Flores.

Tepatnya tanggal 6 November 2014, pertama kalinya aku melihat dan merasakan langsung panasnya Pulau Flores. Perjalanan dari Kupang menuju Labuan Bajo memakan waktu 1 jam karena masih transit di Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman, Kabupaten Ende.


Diterbangkan langsung oleh Wings Air
Begitu turun dari pesawat,, beuh panasnya begitu menyengat. Memang sih Kupang panas, tapi entahlah panas di Pulau Flores tepatnya di Kabupaten Mangarai Barat begitu menusuk. Setelah membaca beberapa artikel, ternyata memang di Kabupaten Manggarai Barat sinar mataharinya sangat kuat atau disebut over-exposure. Secara kasat mata, matahari di sini terlihat lebih besar dibandingkan dengan di Kupang. Kita bisa bandingkan pada saat matahari terbenam, akan terlihat jelas bulatannya yang bulat sempurna dan besar. Tidak seperti di Kupang. Well mungkin itu sedikit bisa menjelaskan kenapa di Manggarai Barat panas banget.
Walaupun begitu terik, tapi semangatku tetap berapi-api saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Labuan Bajo (Ibukota Kabupaten Manggarai Barat). Mungkin karena terlalu excited. :D
Tidak banyak tempat yang kukunjungi selama di Pulau Flores karena waktu yang tidak mengijinkanku untuk berlama-lama di sini. Tapi begitu banyak kenangan dan pelajaran yang didapat.

Setelah cukup berpanas-panasan, keesokan harinya kita langsung mempersiapkan diri menuju ke Pulau Komodo/Pulau Rinca untuk melihat "Raja Purba".

Kita masih harus menyewa kapal lagi untuk menuju ke Pulau Komodo/Pulau Rinca. Harga sewa kapalnya bervariasi dari Rp 1.500.000 - Rp 2.000.0000. Kalau menurut teman-teman ini mahal, coba baca artikel ini. Ada berbagai cara untuk menekan budget perjalanan ke Komodo. Pada saat berangkat aku tidak terlalu memikirkan budget karena transportasi, penginapan serta makan sudah ada yang menanggung. Makanya aku nekat mengikuti perjalanan ini. hihihihi. Masalah penginapan murah, teman-teman juga tidak perlu khawatir koq, di Labuan Bajo banyak penginapan murah dengan range harga Rp 30.000 - Rp 50.000/hari (bisa baca di sini). Penginapan ini sebenarnya ditujukan untuk nelayan/penduduk yang menunggu kapal menuju ke Pulau Komodo atau menuju ke Sumatera dan Jawa. Jadi tidak perlu ada alasan lagi kan untuk tidak jalan-jalan ke Pulau Komodo.
Penginapan tersebut letaknya tidak jauh dari pelabuhan, tempat kita menyeberang ke Pulau Komodo/Pulau Rinca. Cuma jalan kaki atau kalau mau manja dikit, bolehlah naik ojek. :D

Pelabuhan Ferry di Seputaran Jalan Soekarno-Hatta
Jejeran kapal yang sudah siap mengantar Anda
Semakin besar kapal semakin mahal harga sewanya
Akhirnya kami memutuskan untuk ke Pulau Rinca, mengunjungi Raja Purba Si Komodo. Lama perjalanan dari Labuan Bajo Ke Pulau Rinca hampir mencapai 2,5 jam. Lama bukan? Tapi perjalanan ini tidak akan berasa lama koq karena kita bakal ditemani sama pemandangan yang eksotis. Kalau beruntung kita juga bisa melihat hiu ataupun lumba-lumba yang berenang bebas selama perjalanan.

Meninggalkan Pelabuhan
Selang beberapa menit kita sudah ditemani perbukitan yang eksotis






Bosan melihat perbukitan, masih banyak aktivitas yang bisa kita lakukan, selfie, candid, foto-foto, berpura-pura jadi nahkoda bahkan ngobrol ngalur kidul.. Saran saya: Perjalanan ini harus membawa teman! Kalau ga bisa membosankan banget. Tapi kalau memang sudah nekat dan tetap tidak punya teman jalan, just KEEP MOVING and Pack the BACKPACK!


Untunglah setelah sudah bosan dan mati gaya, tidak beberapa lama kemudian, kami sampai di Loh Buaya, pintu masuk menuju ke Pulau Rinca. Di sini kita sudah ditunggu sama ranger yang bakal menemani kita selama di Pulau Rinca.
WELCOME TO RINCA ISLAND
Disini kita akan dikenakan beberapa biaya administrasi. Setidaknya ada 4 karcis yang harus dibayar. Siapkan duit lebih ya guys! Aku lupa biayanya apa-apa aja. Soalnya aku sibuk foto2.. hihi

Yuk mari kita lanjutkan perjalanan yang sudah mulai hot ini.. :D

Berfoto sebentar sebelum melakukan tracking di Pulau Rinca
Ternyata sebelum melakukan tracking, kita sudah bisa melihat Mr Komodo berseliweran di sekitar kawasan mess ranger. Beruntunglah karena saya sudah mulai dehidrasi.hihihi
Pada saat musim panas seperti ini mereka akan berkumpul di tempat-tempat yang dingin.
Saat kita mulai mendekati, tampak si Komodo jantan yang gede lagi ngamuk karena diganggu (Tenang! bukan karena kedatangan kita koq) Tapi karena digoda komodo lain. Suara desisannya aja udah bikin jantungku berdebar-debar. heu..Pokoknya mataku cuma fokus sama komodo dan ranger.

Dalam keadaan gini, masih aja suka jahilin orang.. heu!
Oya, coba perhatikan tanda biru dibadan si Komo. Tanda biru dibadan mereka itu merupakan tanda kalau mereka sudah disensus. Setelah melakukan sensus, ternyata jumlah komodo di Pulau Rinca mencapai 2.000 ekor. Weleh..weleh banyak juga ya. Pulau Rinca ini merupakan area konservasi komodo sehingga komodo-komodo di sini dibiarkan untuk mencari makanan sendiri. Dibiarkan begitu saja.
Setelah cukup puas melihat tingkah si komo, kami melanjutkan perjalanan ke sarang komodo. Ketika pada saat akan bertelur, induk komodo akan menggali 5-8 lubang ke dalam tanah. Sarang tersebut seperti terowongan. Dari 5-8 lubang, hanya akan ada satu lubang yang berfungsi sebagai tempat bertelur. Hal ini bertujuan untuk menjaga keselamatan telur dari komodo lain. Telur tidak akan dierami tapi si induk hanya akan menjaga selama 3 bulan di lubang lain (intinya cuma memantau doank).
Sarang Komodo
Pada saat menuju ke sarang komodo, kami bertemu dengan anak komodo. Yeay! Why? Itu artinya kami beruntung karena bisa bertemu langsung dengan  anak komodo yang baru berumur 7 bulan. Katanya sih ada peneliti dari luar negeri yang bela-belain tinggal sampai tiga bulan cuma mau ketemu anak komodo ini. Wow!
Jarang-jarang lho bisa bertemu dengan anak komodo karena mereka bersembunyi dipohon selama tiga tahun. Seperti yang sudah kujelaskan, induk komodo hanya bertugas untuk menyimpan telur-telurnya agar aman selama 3 bulan, setelah bulan keempat ia akan meninggalkan sarang. Jadi saat sudah menetas, bayi komodo ini sudah mandiri. Mereka akan naik ke pohon dan makan serangga ataupun tokek. Anak-anak komodo itu sebenarnya hidupnya terancam karena induknya sendiri tidak mengenali anak-anaknya sehingga kapanpun mereka bisa dijadikan santapan makan siang!


Sekian dulu ya ceritaku di Pulau Flores yang pertama! Nantikan tulisan lainnya. :)